MUZZKIPPER HIDUPKAN KEMBALI SEMANGAT ROCK KLASIK LEWAT DEBUT SINGLE “23.30”

Skena musik rock Indonesia kembali kedatangan nama baru. Berasal dari Pontianak, Muzzkipper resmi memperkenalkan diri melalui debut single “23.30”, sebuah lagu yang menjadi titik awal perjalanan mereka sekaligus penegasan identitas musikal yang berakar pada semangat rock era 1970-an. Dengan riff gitar yang padat, groove yang mengalir, dan energi mentah khas musik klasik, Muzzkipper mencoba menghadirkan nuansa lama dalam kemasan yang tetap relevan bagi pendengar masa kini.

Band yang terbentuk pada 2024 ini digawangi oleh Fauzan (vokal dan bass), Benk (gitar dan backing vokal), serta Edo (drum). Kehadiran Muzzkipper berawal dari keinginan sang manajer, Hafidh, untuk membangun sebuah band rock yang mampu mewadahi berbagai ide musikal yang selama ini belum tersalurkan. Dari pertemuan itu, ketiganya menemukan visi yang sama dan sepakat membentuk sebuah unit rock yang terinspirasi oleh band-band legendaris seperti Motörhead, Deep Purple, dan Black Sabbath.

“Semua berawal dari kepala yang sedikit ribut oleh ide-ide yang belum bisa tersalurkan pada tempatnya. Lalu kami dipersatukan oleh Hafidh yang ingin mempunyai sebuah band. Dari situ kami sadar punya visi yang sama, yaitu membentuk band rock,” ungkap Benk mengenai awal terbentuknya Muzzkipper.

Single perdana “23.30” lahir dari sebuah sesi jamming sederhana di kediaman Benk pada 2024. Saat ketiga personel memainkan rangkaian riff yang kemudian menjadi fondasi lagu, Hafidh secara spontan menuliskan liriknya. Menariknya, judul lagu ini diambil dari waktu yang tertera saat proses kreatif tersebut berlangsung—pukul 23.30—yang kemudian menjadi simbol lahirnya karya pertama mereka.

Di balik dentuman musiknya, “23.30” mengangkat cerita yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Lagu ini berbicara tentang masa muda yang penuh kontradiksi; fase ketika seseorang kerap mengambil keputusan impulsif, belajar dari kesalahan, menyesalinya, namun tak jarang kembali mengulanginya. Bagi Muzzkipper, proses jatuh dan bangkit merupakan bagian penting yang membentuk kedewasaan seseorang.

“23.30 bercerita tentang masa muda, ketika kita sering melakukan hal-hal bodoh, mencoba banyak hal baru, menyesal, tapi kadang mengulanginya lagi di hari yang berbeda. Lagu ini menggambarkan proses belajar dari kegagalan, kesalahan, dan pengalaman yang akhirnya membentuk diri kita,” jelas Hafidh.

Untuk menjaga karakter musik yang mereka usung, Muzzkipper memilih merekam lagu ini menggunakan metode live take di F Studio, Pontianak. Keputusan tersebut diambil demi mempertahankan energi organik yang identik dengan rekaman band-band rock klasik. Seluruh proses rekaman diselesaikan pada akhir 2024, sementara tahap mixing dan mastering dipercayakan kepada Aris Salim di Batara Studio, hingga akhirnya rampung pada 2026.

Melalui “23.30”, Muzzkipper bukan hanya memperkenalkan diri sebagai wajah baru dalam skena rock Indonesia, tetapi juga menunjukkan bahwa musik rock klasik masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah lanskap musik modern. Dengan fondasi yang kuat dan karakter yang sudah mulai terbentuk, debut ini menjadi langkah awal menuju berbagai karya berikutnya yang tengah mereka siapkan.

Single “23.30” telah tersedia di seluruh platform streaming digital mulai 31 Juli 2026, sekaligus menjadi pembuka perjalanan Muzzkipper dalam memperkenalkan semangat rock dari Pontianak kepada pendengar yang lebih luas.

Leave A Comment