SEVEN SEVENTY AKHIRI HIATUS TIGA TAHUN DENGAN LEDAKAN AMARAH LEWAT SINGLE “SIAPA MAU MERASA DISINGKIRKAN LAGI?”

Tiga tahun menghilang dari radar, Seven Seventy akhirnya kembali. Unit alternative rock asal Malang itu menandai berakhirnya masa hiatus melalui single terbaru “Siapa Mau Merasa Disingkirkan Lagi?”, sebuah lagu yang lahir dari amarah, keresahan, dan refleksi atas berbagai ketidakadilan yang mereka lihat dan rasakan. Lebih dari sekadar lagu comeback, rilisan ini menjadi titik awal perjalanan baru menuju album penuh dengan kampanye bertajuk #SemuaBerhakDidengar.

Single ini hadir tiga tahun setelah “El Pollo Loco”, rilisan terakhir Seven Seventy yang berhasil menembus lebih dari 100 ribu stream di platform digital. Namun, alih-alih mengulang formula lama, mereka memilih kembali dengan identitas musikal yang lebih matang dan agresif. Distorsi gitar yang lebih tebal, ritme yang menghentak, serta vokal yang sarat emosi menjadi wajah baru Seven Seventy dalam mengembangkan eksplorasi alternative rock mereka.

Comeback ini sekaligus menandai semangat baru yang mereka usung melalui slogan #770ReigniteTheBandit. Bagi Seven Seventy, masa vakum bukan berarti berhenti berkarya. Sebaliknya, periode tersebut menjadi waktu untuk menyusun kembali arah musik, bertukar ide, sekaligus mempersiapkan fondasi yang lebih kuat untuk fase berikutnya.

“Hiatus kami selama tiga tahun bukan berarti berhenti. Kami tetap menulis lagu, bertukar ide, dan perlahan membangun arah baru untuk Seven Seventy,” ujar Abil, manajer Seven Seventy.

Kini diperkuat oleh Dimas (Ayam) sebagai gitaris sekaligus vokalis, Anggoro (gitar/vokal), Danang (gitar), Reza (bass), dan Daniel (drum), Seven Seventy tampil dengan formasi yang lebih solid untuk melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya merilis EP FALA AMO.

Dari sisi penulisan lagu, “Siapa Mau Merasa Disingkirkan Lagi?” memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Jika karya-karya sebelumnya lebih banyak berbicara mengenai pengalaman personal dan romansa, kali ini Seven Seventy mengalihkan fokus pada isu-isu sosial. Lagu ini menyoroti perasaan disingkirkan, dibungkam, hingga perjuangan menghadapi sistem dan kekuasaan yang menekan. Tema tersebut menjadi bentuk kepedulian mereka terhadap realitas yang dialami banyak orang.

Inspirasi musikal mereka juga berkembang. Pengaruh dari The Panturas, Paramore, Perunggu, hingga berbagai band alternative rock lainnya berpadu menjadi karakter baru yang terasa lebih segar, namun tetap mempertahankan energi khas Seven Seventy. Perubahan tersebut semakin diperkuat dengan keputusan menggunakan lirik berbahasa Indonesia agar pesan yang ingin disampaikan terasa lebih dekat dan relevan.

“Kami sadar musik punya kekuatan untuk memulai percakapan. Lewat bahasa Indonesia, keresahan yang kami angkat terasa lebih jujur dan lebih dekat dengan realitas yang kami alami,” ungkap Anggoro, yang kemudian diamini Danang.

Lebih dari sekadar comeback, “Siapa Mau Merasa Disingkirkan Lagi?” menjadi pernyataan sikap Seven Seventy. Lagu ini hadir sebagai suara bagi mereka yang pernah merasa diabaikan, dipinggirkan, atau kehilangan ruang untuk didengar. Melalui kampanye #SemuaBerhakDidengar, band asal Malang ini ingin mengajak lebih banyak orang untuk menjadikan musik sebagai ruang berbagi keresahan sekaligus membuka percakapan mengenai isu-isu yang kerap luput dari perhatian.

Single “Siapa Mau Merasa Disingkirkan Lagi?” kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital dan menjadi langkah pertama Seven Seventy menuju album terbaru mereka.

Leave A Comment