DELAPAN TAHUN MENGHILANG, UTBBYS KEMBALI DENGAN VIRADA: SAATNYA MENGUBAH ARAH
Setelah delapan tahun sejak album terakhir mereka dirilis pada 2018, Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS) akhirnya kembali dengan album penuh keempat bertajuk VIRADA. Namun, comeback ini bukan sekadar tentang kembali ke panggung atau merilis materi baru. VIRADA menjadi penanda perubahan besar bagi UTBBYS, baik dari sisi musik maupun cara mereka memandang perjalanan hidup.

Alih-alih menganggap perubahan sebagai tindakan untuk meninggalkan masa lalu, UTBBYS justru melihatnya sebagai proses menyatukan kembali bagian-bagian perjalanan yang sempat terpisah. VIRADA berbicara tentang keberanian mengubah arah tanpa harus menghapus pengalaman yang telah membentuk seseorang.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam enam lagu yang disusun sebagai satu perjalanan utuh. Album dibuka dengan “Pangawit”, yang menjadi simbol sebuah permulaan. Perjalanan kemudian berlanjut ke “Bias”, fase ketika seseorang masih dipenuhi keraguan dan terus mencari jawaban.
Dari sana, “Metanoia” hadir sebagai titik perubahan cara pandang. Setelah mampu melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda, perjalanan berlanjut menuju “Legawa”, sebuah fase ketika seseorang mulai belajar melepaskan hal-hal yang memang sudah tidak dapat dipertahankan.
Cerita kemudian bergerak menuju “Merdeka”, yang menggambarkan kebebasan dalam menerima diri sendiri. Perjalanan tersebut akhirnya bermuara pada “Arunika”, sebuah ruang yang lebih tenang ketika seseorang mulai memahami ke mana arah hidupnya.

Menariknya, perubahan konsep VIRADA juga terlihat jelas dari cara UTBBYS memperlakukan bahasa. Album ini menjadi rilisan pertama mereka dengan formasi baru, sekaligus menjadi album pertama yang meninggalkan penggunaan judul lagu berbahasa Inggris. Keenam lagu di dalamnya menggunakan bahasa Indonesia, dengan sejumlah kosakata yang berasal dari bahasa daerah dan Sanskerta.
Pilihan tersebut memberikan wajah baru bagi UTBBYS. Jika rilisan-rilisan sebelumnya memiliki identitas yang berbeda, VIRADA justru membuka ruang baru melalui pemilihan kata dan judul yang lebih dekat dengan bahasa Indonesia serta kekayaan kosakata Nusantara. Hasilnya, pendengar diberikan kesempatan untuk menafsirkan setiap lagu melalui pengalaman mereka masing-masing.

Secara konsep, VIRADA terasa seperti sebuah perjalanan dari titik paling awal menuju pemahaman yang lebih matang. Tidak ada upaya untuk menghapus apa yang telah terjadi. Sebaliknya, album ini mengajak pendengar melihat masa lalu sebagai bagian dari perjalanan yang tetap memiliki arti.
Untuk kebutuhan visual, artwork cover CD VIRADA dikerjakan oleh fotografer asal Bali, Yoga Raharja. Sementara foto-foto yang merepresentasikan masing-masing lagu merupakan karya Ardi Fauzi Ridwan.

Ada pula sesuatu yang spesial bagi mereka yang memilih format fisik. Edisi CD VIRADA menghadirkan bonus track eksklusif yang menggabungkan “Legawa” milik UTBBYS dengan “Journey” milik Lass. Materi tersebut hanya tersedia dalam format fisik dan menjadi tambahan tersendiri bagi rilisan album ini.
Pada akhirnya, VIRADA bukan hanya menjadi album comeback setelah delapan tahun. Ia menjadi representasi dari fase baru UTBBYS—tentang perubahan, penerimaan, dan keberanian untuk menentukan arah sendiri.
Karena terkadang, untuk benar-benar melangkah maju, kita tidak perlu mengulang waktu atau menghapus apa yang pernah terjadi. Kita hanya perlu berani mengubah arah.
Tracklist — VIRADA
- Pangawit
- Bias
- Metanoia
- Legawa
- Merdeka
- Arunika