Bandung, — Band rock liar asal Bandung, Loenar Van Hail, resmi merilis single terbaru bertajuk “Blood N Tears” pada Sabtu (18/4). Lagu ini menjadi gerbang pembuka menuju debut album mereka, Jurnal Hitam, yang dijadwalkan meluncur pada pertengahan tahun ini. Sebelumnya, mereka telah mengenalkan diri ke publik musik pada pertengahan tahun 2024 dengan bekal single ugal-ugalan “Live to Live”.

 

 

Loenar Van Hail saat ini diperkuat oleh Imansyah Hidayat (vokal, synthesizer), Indra Rusmana Putra (lead gitar), M. Alfi Rusmana (gitar), dan Fayyadh Adha Bestari (bass).

 

Melalui “Blood N Tears”, mereka menghadirkan energi rock yang eksplosif dengan pengaruh kuat dari sonik rock era 1970 hingga 1990-an. Karakter musikalnya ditandai oleh vokal melengking, riff gitar tajam nan kotor, permainan bass agresif, serta gebukan drum yang dinamis, dipadu elemen synthesizer bernuansa galaktik.

 

Berdurasi nyaris 4 menit, lagu ini mengangkat tema luka dan kemarahan atas kejahatan kemanusiaan yang terus berulang (baca: perang/genosida). Narasinya merespons situasi global, khususnya konflik berkepanjangan di Palestina serta eskalasi ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam konteks tersebut, Loenar Van Hail turut menyuarakan kritik terhadap dinamika politik internasional dimaksud.

“Kemuakan terhadap kejahatan perang oleh Zionist Israel-Amerika Serikat atas Palestina menjadi dorongan utama dalam penulisan lagu ini—sebuah respon jujur atas rasa masygul melihat kejahatan kemanusiaan yang tak kunjung usai. Rudal yang bertebaran membumihanguskan tanah Gaza, berita kematian terdengar di mana-mana, dan korban sipil yang terus berjatuhan tanpa suara,” ujar motor band, Imansyah Hidayat.

 

Sebagai musisi, kami, lanjutnya merasa tidak cukup hanya menjadi penonton: “Lagu ini adalah bentuk sikap serta cara kami menyuarakan empati sekaligus penolakan terhadap normalisasi konflik—juga semacam wajah lain dari para pejuang kemerdekaan yang militan. Di tengah hiruk-pikuk propaganda dan kepentingan politik, kami ingin menghadirkan ruang refleksi yang sederhana namun tulus: bahwa di balik setiap ledakan dan statistik, ada kehidupan yang hancur—dan musik menjadi salah satu cara kami berdiri bersama mereka yang terdampak”.

 

Di sisinya yang lain, “Blood N Tears” juga semacam kode sekaligus pertanyaan bagi Negara tempat Loenar Van Hail berdiri dan hidup sekaligus mempertanyakan arah politik luar negeri Indonesia di tengah konflik yang terus berkembang. Dengan kata lain, mereka menyoroti berbagai kebijakan yang dinilai tidak selaras dengan nilai kemanusiaan dan solidaritas global.

 

“Keputusan Indonesia bergabung ke dalam dewan perdamaian BOP (Board of Peace) mencederai nilai dan pandangan politik rakyat Indonesia yang pro-Palestina. Ini merupakan bentuk hegemoni lunak dalam relasi geopolitik internasional, dengan dalih rekonstruksi dan stabilisasi Jalur Gaza, serta berpotensi mengabaikan hukum HAM internasional,” kata bassist Fayyadh Adha Bestari.

 

Pembentukan BOP, faktanya juga beriringan dengan eskalasi konflik Iran—Israel yang memicu ketegangan global, dan lagi memiliki efek kemanusiaan mengerikan: nyawa tak berdosa yang terus saja bertambah hingga detik ini.

 

“Hemat kami, keluar dari BOP adalah langkah konkret untuk mengembalikan nilai dan sikap politik bangsa ini. Selebihnya, perjuangkan kemerdekaan Palestina dan dukung Iran sebagaimana mereka melihat kita sebagai bangsa yang besar,” ucapnya tegas.

 

Payung album Jurnal Hitam sendiri menjadi representasi sudut pandang Loenar Van Hail dalam membaca realitas sosial-politik. Karya ini memuat refleksi atas berbagai persoalan, mulai dari kebijakan negara yang dianggap tidak efektif, sikap politisi yang dinilai tidak responsif, hingga praktik represif yang mencederai demokrasi.

 

Jurnal Hitam adalah kumpulan catatan dan kegelisahan kami terhadap realitas sosial-politik. Setiap lagu merepresentasikan pertemuan antara amarah dan kepedulian yang terus berulang,” tutup sang vokalis.

 

 

Secara produksi, “Blood N Tears” dikerjakan di The Old Ghost House, Bandung, dengan arahan produser muda Al Azthra Verdijantoro, yang juga mengerjakan proses mixing dan mastering hingga artwork sampulnya dengan penggayaan yang eklektik dan membelalak. Lagu ini telah tersedia di berbagai platform musik digital, seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Deezer.

 

Perilisan single ini juga diiringi aksi solidaritas. Loenar Van Hail dijadwalkan tampil dalam acara Bandung Protest – Solidaritas Seni Untuk Palestina – Global Day of Action: “Asia Afrika Berkabung, Dunia Tanpa Zionisme Kolonialisme”, pada Sabtu, 18 April 2026. Aksi yang juga merupakan respon alternatif hari peringatan Konferensi Asia Afrika ke-71 ini turut melibatkan Raws Syndicate, seniman pantomim Wanggi Hoed serta komunitas-komunitas peduli Palestine-Iran.

 

Aksi ini akan berlangsung dalam bentuk long march dari Monumen Prasasti Dasasila Bandung hingga Palestina Walk Bandung. Dalam kesempatan tersebut, Loenar Van Hail akan membawakan “Blood N Tears” untuk pertama kalinya di hadapan publik.

 

Tentang Løenar Van Hail

 

Terbentuk di Bandung pada tahun 2015, Løenar Van Hail berangkat dari pertemanan erat dua sosok: Imansyah Hidayat (vokal) dan Indra Rusmana Putra (lead gitar). Keduanya dipersatukan oleh ketertarikan yang sama terhadap musik rock—bukan hanya sebagai genre, tetapi juga sebagai ruang eksplorasi gagasan dan spirit wacana. Dari titik temu itulah, mereka sepakat membentuk sebuah unit musik yang mampu melebur berbagai spektrum rock; mulai dari pengaruh seattle-sound hingga nuansa psychedelic, menjadi satu kesatuan konseptual yang segar dan menggugah.

 

Perjalanan waktu membawa Løenar Van Hail pada fase pengembangan yang lebih matang. Pada tahun 2022, formasi band ini diperkuat dengan bergabungnya M. Alfi Rusmana (gitar) dan Fayyadh Adha Bestari (bass). Kehadiran keduanya tidak hanya menyempurnakan susunan personel, tetapi juga memperkaya pendekatan musikal Løenar Van Hail, menjadikannya semakin solid dan ajeg dalam merumuskan identitas bunyi mereka.

 

Nama Løenar Van Hail sendiri berakar dari dua kata: “Lunar” yang berarti bulan—merepresentasikan pergerakan yang konstan, siklik, dan penuh misteri—serta “Hail”, yang dalam khazanah kesusastraan bermakna seruan, salam, pujian, atau penghormatan. Lebih dari sekadar nama, Løenar Van Hail adalah sebuah entitas: gelap namun tenang, kuat namun subtil, sekaligus menjadi ruang perayaan bagi energi dan dinamika yang mereka bawa dalam setiap karya.

 

 

Blood N Tears

Every day I watch the news of death

Blood and tears as far as my eyes can see

Hey!

Don’t be afraid!

God be with you!

We can’t avoid the war

The fact is we hate it

Brothers died for revelations

Sisters don’t be sorrow

Don’t be afraid!

God be with you!

Don’ be afraid!

God be with you!

Don’t be daunted!

Angels for you!

 

 

—————————————————————————————————————

Kontak dan Media Sosial

E-mail: loenarvanhail69@gmail.com
IG: @loenarvanhail
CP: +62-31-1703-0227 (Imansyah Hidayat)

Spread the love

Leave A Comment