Enam bulan setelah memperkenalkan identitas musikalnya lewat single “Avoidance”, unit math rock asal Jakarta, Obelisk Stereo, kembali membuka babak baru melalui perilisan EP perdana bertajuk Sheol. Berisi enam komposisi, rilisan ini menjadi pernyataan artistik yang menandai perkembangan musikal band sekaligus memperluas eksplorasi mereka terhadap tema-tema eksistensial dan spiritual.

Diperkuat oleh Hary, Fikri, Regarde, dan Willy, Obelisk Stereo menghadirkan Sheol sebagai sebuah perjalanan konseptual yang mengajak pendengar menelusuri batas antara kehidupan dan kematian. Alih-alih memandang kematian sebagai akhir, EP ini justru menawarkan sudut pandang bahwa setiap akhir merupakan gerbang menuju bentuk kehidupan yang baru. Gagasan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh lagu di dalamnya, menjadikan Sheol lebih dari sekadar kumpulan komposisi, tetapi sebuah narasi yang utuh.

EP ini memuat enam lagu, yaitu “Tips”, “Refraksi”, “Color”, versi baru “Avoidance”, “Elia im Feuersturm”, serta “Furansarenai” yang menjadi lagu penutup dengan melibatkan solois Vanisa Theresita. Kehadiran versi remaster dari “Avoidance” sekaligus menunjukkan bagaimana Obelisk Stereo terus menyempurnakan karakter musiknya sejak rilisan perdana.

Secara musikal, Sheol memperlihatkan sisi Obelisk Stereo yang lebih berani bereksperimen. Band ini memperkenalkan berbagai pendekatan komposisi baru yang mempertegas identitas math rock mereka, sekaligus memperkaya lanskap suara dengan sentuhan atmosfer yang lebih surealis. Salah satu elemen yang paling mencolok hadir melalui permainan trumpet dari Angggi Rambe (Budiraya, My Gosh), yang memberi warna berbeda pada lagu “Avoidance” dan “Elia im Feuersturm”. Kehadiran instrumen tersebut menjadi salah satu penanda evolusi musikal Obelisk Stereo dalam EP ini.

Di balik kompleksitas aransemen dan permainan ritme yang menjadi ciri khas mereka, Sheol juga membawa pesan yang cukup reflektif. Obelisk Stereo mengajak pendengar merenungkan perjalanan hidup manusia beserta berbagai pergumulannya, sembari menawarkan harapan bahwa setiap beban yang dipikul pada akhirnya akan menemukan pelepasannya. Melalui pendekatan tersebut, EP ini mencoba menghadirkan pengalaman mendengar yang tidak hanya menarik secara musikal, tetapi juga membuka ruang untuk berefleksi.

Proses produksi Sheol melibatkan sejumlah kolaborator yang turut memperkuat karakter album. Seluruh materi ditulis oleh Hary Hutajulu, sementara lirik dikerjakan bersama Fikri Manurung dan Regarde Utama. Proses rekaman drum dilakukan oleh Wendy Bagindas, sedangkan gitar, bass, vokal, dan trumpet direkam, di-mixing, sekaligus di-mastering oleh Rolland Sadira. EP ini juga mendapat sentuhan dari Maligi Katon sebagai sound curator, dengan teaser visual garapan Adam Syah, serta artwork hasil kolaborasi Abiyyu Tsaqiif dan Sir. Bandera.

Melalui Sheol, Obelisk Stereo tidak hanya memperkenalkan arah musikal yang semakin matang, tetapi juga menegaskan keberanian mereka mengeksplorasi tema-tema yang jarang disentuh dalam skena math rock Indonesia. Dengan perpaduan komposisi yang dinamis, atmosfer yang imersif, dan konsep yang kuat, EP ini menjadi langkah penting dalam perjalanan kreatif mereka.

EP Sheol kini telah tersedia di seluruh platform streaming digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

KEYINGI SAFAR TURNS HEARTBREAK AND MEMORY INTO “KEYINGI SAFAR”

Tashkent, Uzbekistan — Hailing from Tashkent, Uzbekistan, emo/alternative rock band Keyingi Safar…

HELLBOND LEPAS EP DEBUT BOND FOR THIS, MERANGKAI AMARAH, KEHANCURAN, HINGGA KEBEBASAN

Bogor, 21 Agustus 2026 — Proyek solo HellBond resmi memperkenalkan EP perdana…

BARRY CAN’T SWIM BAWA NUANSA FRENCH TOUCH KE ERA BARU LEWAT “DANCE DANCE DANCE!”

Edinburgh, Skotlandia — Produser dan DJ asal Skotlandia Barry Can’t Swim kembali…

ANXIOUS KEMBALI DENGAN “DON’T MOVE”, SAAT CINTA YANG RETAK TAK LAGI BISA DIPAKSA UTUH

Band rock alternatif asal Amerika Serikat, Anxious, membuka babak baru lewat single…