TAILWHIP LUKIS ULANG RASA KEHILANGAN LEWAT “PAINT YOU LIKE A PAINFUL HOPE”
Setelah sebelumnya memperkenalkan sisi kebingungan dalam “I Feel Confused,” band asal Bintaro, Tailwhip, kembali membuka babak emosional berikutnya lewat single ketiga mereka, “Paint You like a Painful Hope.” Dirilis pada 12 Agustus 2026, lagu ini membawa Tailwhip masuk lebih jauh ke wilayah tentang kehilangan, ketakutan untuk melepaskan, dan harapan yang justru terasa menyakitkan ketika terus dipertahankan.
![]()
Jika rilisan sebelumnya berbicara tentang hubungan yang mulai runtuh dan perasaan yang masih tersisa setelahnya, “Paint You like a Painful Hope” mengambil posisi yang lebih rumit. Ada fase ketika seseorang sebenarnya sudah memahami bahwa sebuah hubungan mungkin tidak lagi bisa dipertahankan, tetapi bayangan tentang hidup tanpa orang tersebut terasa jauh lebih menakutkan.
Dari situ, Tailwhip mengangkat kebiasaan manusia yang cukup familiar: terus memutar ulang masa lalu di kepala. Percakapan lama, kesalahan kecil, pertanyaan yang belum menemukan jawaban, hingga berbagai kemungkinan tentang apa yang seharusnya terjadi. Semua hal tersebut perlahan membentuk ingatan yang semakin sulit dibedakan antara cinta, nostalgia, penyesalan, dan rasa takut menghadapi hari setelah kehilangan.

Judul “Paint You like a Painful Hope” kemudian menjadi metafora utama lagu. Seseorang berusaha mempertahankan sosok yang telah pergi melalui ingatan, seperti gambar yang terus dilukis ulang. Semakin lama gambaran tersebut dipertahankan, semakin sulit pula menerima kenyataan bahwa apa yang dikenang tidak selalu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Menariknya, Tailwhip tidak melihat harapan sebagai sesuatu yang selalu positif. Dalam lagu ini, harapan justru memiliki dua sisi. Ia bisa menjadi alasan seseorang tetap bertahan, tetapi pada saat yang sama dapat membuat seseorang terus terjebak dan tidak pernah benar-benar berani pergi.
“Painful hope” menjadi gambaran tentang kondisi ketika seseorang tahu bahwa melepaskan mungkin adalah pilihan yang tepat, tetapi masih memilih untuk mempertahankan versi indah dari seseorang agar memiliki alasan untuk tetap tinggal.
Secara musikal, Tailwhip kembali mempertemukan alternative rock, punk, dan indie pop, tetapi kali ini dengan pendekatan yang terasa lebih intim dan sinematik. Kehadiran dua vokal dengan porsinya masing-masing turut memberikan perspektif emosional yang berbeda, membuat cerita dalam lagu terasa seperti percakapan antara dua sisi perasaan.

Karakter “Suburban Music” yang menjadi bagian dari identitas Tailwhip juga kembali terasa. Bagi mereka, suburban bukan hanya persoalan tempat tinggal. Bintaro dan lingkungan sekitarnya menjadi lanskap tempat berbagai pengalaman tumbuh terjadi—mulai dari cinta pertama, pertemanan, perpisahan, sampai harapan-harapan kecil tentang masa depan.
Cerita tersebut kemudian diperluas melalui video musik “Paint You like a Painful Hope”. Alih-alih menerjemahkan lirik secara harfiah, Tailwhip menghadirkan karakter bernama Kaysha, seorang pelukis muda yang kehilangan ibunya dan kesulitan kembali berkarya. Sebuah catatan peninggalan sang ibu kemudian perlahan membawanya keluar dari keterasingan dan mempertemukannya dengan seseorang yang membantu Kaysha menemukan kembali hubungan dengan seni dan harapan.
Melalui cerita tersebut, aktivitas melukis berubah menjadi cara untuk menghadapi kehilangan. Karya, kebiasaan, dan benda-benda kecil yang ditinggalkan seseorang dapat menjadi bentuk kehadiran yang tetap hidup dalam ingatan, meskipun orangnya sendiri sudah tidak mungkin kembali dalam bentuk yang sama.
Pada akhirnya, “Paint You like a Painful Hope” tidak menawarkan jawaban sederhana tentang apakah seseorang harus bertahan atau pergi. Justru di situlah kekuatan lagu ini. Tailwhip mengajak pendengar mempertanyakan batas antara mempertahankan sesuatu karena cinta dan mempertahankannya karena takut menghadapi kehilangan.
Di luar musik, Tailwhip juga terus terlibat dalam ekosistem kreatif Bintaro dan Jakarta melalui berbagai proyek kolaboratif serta inisiatif seperti Club of 2000s. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari usaha mereka dalam membangun ruang bagi musik independen dan kultur alternatif anak muda.
“Paint You like a Painful Hope” sekaligus menjadi bab ketiga dari rangkaian empat single yang dipersiapkan Tailwhip menuju album debut mereka. Album tersebut dijadwalkan hadir pada Oktober 2026, sehingga setiap rilisan yang mereka keluarkan perlahan membentuk satu rangkaian cerita emosional yang saling berhubungan.
Single “Paint You like a Painful Hope” tersedia di seluruh platform streaming digital mulai 12 Agustus 2026 pukul 00.00 WIB.
Tailwhip
Derah Kelakan — Vokal
Zefanya Tambayong — Vokal
Joe Pramudio — Rhythm Guitar & Keys
Mazaya Ardelle — Bass
Gung Bagus — Lead Guitar