Setelah lebih dari dua dekade berkarya di skena emo dan pop-punk Indonesia, Glory of Love kini membuka babak baru dengan identitas GLORY!. Perubahan nama ini sekaligus ditandai dengan perilisan single “The Only One” pada 23 Oktober 2026, sebuah karya yang membawa pesan tentang bertahan, berserah diri, dan menemukan ketenangan di tengah berbagai persoalan hidup.

Terbentuk di Bandung pada 2002, perjalanan Glory of Love telah melewati berbagai fase. Kini, bersama Grifen Studio sebagai mitra branding dan desain grafis, mereka memilih memperkenalkan identitas baru sebagai bagian dari upaya melanjutkan perjalanan bermusik dengan semangat yang lebih segar.
Keputusan tersebut tidak terlepas dari dinamika internal dan persoalan dengan pihak ketiga yang mereka hadapi. Alih-alih terus membawa beban masa lalu, GLORY! memilih melangkah dengan nama baru tanpa meninggalkan karakter musik yang telah mereka bangun selama lebih dari dua dekade.
KEMBALI KE AKAR DIY LEWAT TURNING POINT RECORDS
Menariknya, “The Only One” dirilis melalui Turning Point Records, label independen yang sebelumnya telah menjadi bagian dari perjalanan awal mereka.
Label tersebut pernah menaungi sejumlah rilisan Glory of Love, termasuk album Pembuktian (2008) dan EP Face It, Deal With It, It’s Time to…Move on! (2010).
Kembalinya GLORY! ke Turning Point Records menjadi bagian dari upaya mereka untuk kembali menjalankan pendekatan Do It Yourself (DIY). Langkah ini juga menandai keinginan mereka untuk melanjutkan proses kreatif secara lebih mandiri.
“THE ONLY ONE”, REFLEKSI SPIRITUAL DALAM BALUTAN EMO DAN POP-PUNK
Di balik karakter musiknya yang energik, “The Only One” menyimpan pesan spiritual yang cukup personal.
Lagu ini terinspirasi dari Surah Ar-Ra’d ayat 28 dalam Al-Qur’an, yang menyampaikan bahwa hati dapat menemukan ketenteraman dengan mengingat Tuhan.
Pesan tersebut kemudian diterjemahkan GLORY! melalui pendekatan emo dan pop-punk yang menjadi bagian dari identitas musikal mereka. Dentuman drum, distorsi gitar yang emosional, serta melodi vokal yang kuat membentuk aransemen yang intens.
Secara tematik, “The Only One” berbicara tentang tiga hal yang saling berkaitan, yakni bertahan hidup, berserah diri, dan menerima keadaan.
Melalui lagu ini, GLORY! mencoba mempertemukan energi musik yang eksplosif dengan refleksi tentang ketenangan batin. Sebuah pendekatan yang memperlihatkan bagaimana pesan spiritual dapat hadir dalam komposisi emo dan pop-punk.
AWAL DARI PERJALANAN BARU GLORY!

Perilisan “The Only One” bukan menjadi satu-satunya agenda GLORY! dalam memperkenalkan identitas baru mereka.
Band asal Bandung ini juga telah menyiapkan sejumlah materi musik yang direncanakan hadir secara bertahap dalam waktu dekat.
Melalui karya-karya tersebut, GLORY! ingin memperkuat arah musikal mereka sekaligus membangun kembali hubungan emosional dengan para pendengar yang telah mengikuti perjalanan mereka sejak era Glory of Love.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, perubahan identitas ini menjadi kesempatan bagi GLORY! untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan pendekatan yang lebih mandiri, tanpa meninggalkan akar emo dan pop-punk yang telah melekat pada musik mereka.
Single “The Only One” sudah dapat didengarkan melalui Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan berbagai platform streaming digital lainnya sejak 23 Oktober 2026.