Unit shoegaze dan alternative rock asal Bintaro, Paraleyes, kembali dengan single terbaru bertajuk “Spheres” yang resmi dirilis pada 16 Oktober 2026. Melalui lagu ini, mereka mengangkat cerita tentang hubungan yang berjalan monoton, penuh kebingungan, dan sulit diakhiri meski kedua pihak menyadari bahwa hubungan tersebut sudah tidak lagi sehat.

Diperkuat oleh Rayno (vokal), Veyron (rhythm guitar), Adam (lead guitar), dan Razi (drum), Paraleyes mencoba mengeksplorasi pendekatan shoegaze yang lebih ekspresif dan dinamis. Karakter suara yang atmosferik tetap menjadi bagian penting dari musik mereka, tetapi kali ini hadir dengan aransemen yang menggambarkan ketegangan emosional dalam cerita lagu.
Judul “Spheres” sendiri berangkat dari gambaran seseorang yang terjebak di dalam sebuah bola yang terus berputar tanpa menemukan jalan keluar. Konsep tersebut menjadi representasi dari hubungan yang berulang dalam pola yang sama, ketika keinginan untuk pergi justru berhadapan dengan ketidakmampuan untuk benar-benar melepaskan diri.
Menariknya, Paraleyes tidak membatasi makna lagu ini hanya pada hubungan romantis. Mereka melihat situasi tersebut sebagai pengalaman yang juga dapat terjadi dalam berbagai bentuk relasi antarmanusia.
PROSES KREATIF YANG SEMPAT KEHILANGAN ARAH
Di balik karakter musik “Spheres” yang megah dan atmosferik, proses pembuatannya ternyata tidak berjalan dengan mudah.
Pada tahap awal, Paraleyes sempat mengalami kebuntuan dalam menentukan arah aransemen. Mereka baru menemukan bentuk utama lagu tersebut melalui sesi jamming spontan di studio, yang kemudian menjadi dasar pengembangan komposisi “Spheres”.
Namun, menemukan aransemen bukan berarti seluruh proses produksi berjalan lancar. Keterbatasan finansial menjadi salah satu tantangan yang harus mereka hadapi ketika memasuki tahap rekaman.
Paraleyes bahkan sempat menggunakan seluruh uang kas band untuk membiayai proses rekaman awal. Sayangnya, hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan. Situasi semakin rumit ketika file rekaman mereka hilang dan memaksa seluruh proses dimulai kembali dari awal.
“Kami sempat taruhin semua uang kas band untuk biaya rekaman awal, namun hasilnya jauh dari harapan. File rekaman kami bahkan sempat hilang hingga harus diulang dari nol. Kami sempat menyerah dua kali dan mengganti mixing engineer beberapa kali sampai akhirnya menemukan hasil sound yang pas,” ungkap Rayno, vokalis Paraleyes.
DARI KEGAGALAN PRODUKSI HINGGA AKHIRNYA MERILIS “SPHERES”
Berbagai kendala tersebut membuat perjalanan produksi “Spheres” berlangsung lebih panjang dari yang mereka harapkan. Paraleyes sempat berada di titik ketika kelanjutan proses rekaman terasa semakin sulit.

Kesempatan untuk menyelesaikan lagu ini akhirnya datang melalui bantuan sebuah studio milik rekan dekat mereka. Studio tersebut menawarkan skema pembayaran secara cicilan karena melihat potensi dari materi musik yang sedang dikerjakan Paraleyes.
Dukungan itu memungkinkan mereka melanjutkan proses produksi hingga mendapatkan karakter suara yang sesuai dengan keinginan mereka.
Pengalaman tersebut turut memberikan makna tersendiri bagi perjalanan Paraleyes. Jika secara lirik “Spheres” berbicara tentang situasi yang terus berulang dan sulit dilepaskan, proses kreatifnya justru memperlihatkan bagaimana mereka berusaha keluar dari rangkaian kegagalan yang sempat menghambat perilisan lagu.
Melalui “Spheres”, Paraleyes tidak hanya memperkenalkan eksplorasi shoegaze dan alternative rock yang lebih dinamis, tetapi juga menunjukkan hasil dari proses panjang yang menuntut konsistensi serta komitmen mereka dalam berkarya.
Single “Spheres” kini sudah dapat didengarkan melalui Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan berbagai platform streaming digital lainnya.