Bandung, Indonesia — Tekanan sosial dan ketidakadilan menjadi sasaran kritik Iron Voltage melalui video musik terbaru mereka, “Living in Curse”. Unit thrash metal crossover asal Bandung ini merilis video tersebut pada 1 November 2026 sebagai langkah awal menuju album penuh kedua mereka, Aftermath, yang akan dirilis melalui Disaster Records.
Lewat “Living in Curse”, Iron Voltage kembali memperlihatkan karakter musik yang agresif, mentah, dan tanpa kompromi. Lagu ini mengangkat keresahan terhadap realitas kehidupan masyarakat yang kerap berhadapan dengan penindasan serta ketimpangan kekuasaan.
Pesan tersebut disampaikan secara lugas melalui lirik berbahasa Inggris yang menggambarkan kehidupan di bawah tekanan dan dominasi kekuasaan. Bagi Iron Voltage, musik keras bukan sekadar tentang distorsi gitar atau permainan tempo yang cepat, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan kritik terhadap keadaan di sekitar mereka.
Pendekatan tersebut turut diterjemahkan ke dalam video musik yang digarap oleh Loc Vision. Alih-alih menggunakan konsep visual yang rumit, video “Living in Curse” memilih estetika old-school melalui format gambar 4:3 dan tampilan monokrom hitam-putih.

Visual yang berfokus pada performa band tersebut memberikan kesan mentah dan langsung. Pilihan ini sekaligus memperkuat karakter musik Iron Voltage, sehingga perhatian pendengar tetap tertuju pada energi permainan serta pesan yang dibawa lagu.
“Living in Curse” menjadi pembuka menuju album kedua Iron Voltage, Aftermath. Melalui rilisan ini, mereka kembali menegaskan bahwa musik ekstrem dapat menjadi ruang untuk menyuarakan kegelisahan sekaligus merespons berbagai persoalan sosial.
Video musik “Living in Curse” kini telah tersedia melalui kanal YouTube resmi Iron Voltage.