PARADE HUJAN BUKA LEMBARAN BARU LEWAT ALBUM PERDANA PUNAR, SEBUAH PERJALANAN TENTANG RINDU DAN SIKLUS KEHIDUPAN

Setelah lama dinantikan, Parade Hujan akhirnya resmi memperkenalkan album penuh perdana mereka bertajuk Punar. Album yang kini telah tersedia di seluruh platform musik digital ini menjadi tonggak penting bagi trio yang diperkuat oleh Mohammad Istiqamah Djamad, Alejandro Saksakame, dan Ivan Penwyn Panjaitan—tiga musisi yang kembali dipertemukan dalam sebuah perjalanan baru setelah pernah berbagi cerita bersama Payung Teduh.

Lebih dari sekadar album debut, Punar menjadi ruang bagi Parade Hujan untuk merangkai kembali berbagai rasa yang pernah hilang. Delapan lagu di dalamnya disusun layaknya sebuah siklus kehidupan, menggambarkan perjalanan manusia yang terus berputar antara kehilangan, pertemuan, keraguan, hingga akhirnya menemukan harapan. Setiap komposisi menjadi bagian dari narasi yang saling terhubung, membentuk pengalaman mendengar yang utuh dari awal hingga akhir.

Judul Punar sendiri merefleksikan gagasan tentang sesuatu yang kembali. Layaknya hujan yang selalu menemukan jalannya untuk turun ke bumi, Parade Hujan mengajak pendengar menyelami perasaan rindu yang tak pernah benar-benar hilang. Dalam naskah pengantar albumnya, hujan menjadi metafora bagi berbagai emosi yang datang tanpa diduga—mengingatkan pada kenangan lama, menghadirkan ruang untuk merenung, lalu perlahan mengantar seseorang menuju penerimaan.

Nuansa tersebut terasa kuat sepanjang album. Parade Hujan tidak sekadar bercerita tentang kerinduan kepada seseorang, tetapi juga tentang perjalanan berdamai dengan diri sendiri. Di tengah rasa kehilangan, mereka menawarkan keyakinan bahwa setiap fase kehidupan akan selalu menemukan jalannya kembali, sebagaimana hujan yang datang, reda, lalu kembali lagi pada waktunya.

“Jangan khawatir. Aku akan kembali. Dan kita akan berjumpa lagi.” Kalimat itu menjadi benang merah yang merangkum keseluruhan makna Punar—sebuah keyakinan bahwa setiap perpisahan selalu menyimpan kemungkinan untuk sebuah pertemuan baru.

Album ini menghadirkan delapan komposisi, yakni “Datang”, “Maka Diturunkanlah Hujan” yang menampilkan Adrian Yunan, “Kehadiran” bersama Monita Tahalea, “Saling Lupa”, “Cahaya”, “Laju”, “Muara”, dan ditutup oleh “Menjelajahi Kerinduan”. Susunan lagu tersebut sengaja dirancang mengikuti perjalanan emosional yang menjadi konsep utama album.

Untuk merayakan perilisan album ini, Parade Hujan juga menggelar Tur Album Punar dalam format pertunjukan intim. Rangkaian tur akan dimulai pada 31 Juli 2026 dengan menyambangi sejumlah kota di Jawa Timur, seperti Malang, Bojonegoro, Kediri, dan Lamongan, sebelum berlanjut ke berbagai wilayah lain di Indonesia. Selain dapat menikmati lagu-lagu dari Punar secara langsung, para penonton juga akan menemukan album versi cakram padat (CD) yang disiapkan secara eksklusif bersamaan dengan merchandise resmi Parade Hujan.

Melalui Punar, Parade Hujan tidak hanya memperkenalkan karya perdana mereka sebagai sebuah entitas baru, tetapi juga mengajak pendengar memahami bahwa hidup selalu bergerak dalam lingkaran yang sama. Ada saat untuk datang, ada waktu untuk pergi, dan ada momen ketika semua rasa yang sempat hilang akhirnya menemukan jalan pulang. Album ini menjadi penanda bahwa pertemuan, kerinduan, dan harapan akan selalu hadir kembali—dalam bentuk yang mungkin berbeda, tetapi dengan makna yang tetap sama.

Leave A Comment