Jakarta — Lebih dari sekadar rangkaian penampilan musik, Synchronize Fest kembali menegaskan perannya sebagai ruang pertemuan berbagai generasi, genre, dan komunitas. Memasuki penyelenggaraan tahun ke-11, festival ini berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, dengan membawa kembali tema “It’s Not Just a Festival, It’s a Movement”.

Tema tersebut menjadi pengingat terhadap semangat yang telah menyertai Synchronize Fest sejak awal: musik tidak berhenti pada pertunjukan di atas panggung, tetapi juga tumbuh melalui komunitas, pengalaman kolektif, dan hubungan antargenerasi.
Salah satu daya tarik utama edisi tahun ini adalah deretan pertunjukan spesial yang mempertemukan kembali musisi dan cerita dari berbagai periode. Geisha, misalnya, menghadirkan “A Retrospective Journey” yang mempertemukan Momo dengan Roby, Aan, Dhan, dan Nard, serta melibatkan Regina. Sementara itu, Maliq & D’Essentials berkolaborasi dengan Jakarta Movin dalam konser musikal “Senja Teduh Pelita”, dan Perunggu menyiapkan penampilan khusus yang membawakan album Dalam Dinamika.
Perayaan lintas generasi juga terlihat melalui program “The Best of 80’s Indonesian Pop Kreatif”, yang mempertemukan Ardhito Pramono, Isyana Sarasvati, Teddy Adhitya, Teza Sumendra, Agatha Pricilla, Ify Alyssa, dan Sivia dengan musik yang digarap Nikita Dompas. Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa katalog musik Indonesia dapat terus dibaca ulang melalui interpretasi dan kolaborasi baru.

Selain panggung utama, Synchronize Fest menghadirkan ruang dengan karakter kurasi berbeda. Gigs Stage yang dikurasi Krapela membuka ruang bagi spektrum musik bawah tanah. Oleng Upuk bersama LaMunai Records membawa eksplorasi musik elektronik dan kultur dansa, sementara Panggung Getarrr yang dikurasi Kobra Musik merayakan musik orkes dari berbagai daerah. RedWhite Jazz Lounge, dengan kurasi Indra Lesmana, turut menghidupkan kembali suasana ruang jazz melalui penampilan, jam session, DJ set, dan kegiatan lain.
Festival ini juga mempertahankan aktivitas di luar panggung. Pasar rilisan fisik, ruang komunitas, serta berbagai program kreatif menjadi bagian dari pengalaman pengunjung. Di sisi lingkungan, penyelenggara melanjutkan inisiatif pengisian ulang air minum, pengelolaan sampah, proyek upcycling, dan pengolahan plastik bekas menjadi instalasi. Sebagian hasil penjualan tiket juga dialokasikan untuk mendukung penanaman mangrove di Kepulauan Seribu.
Keterlibatan komunitas dan program lingkungan memperluas makna festival sebagai ruang berkumpul yang tidak hanya merayakan musik, tetapi juga menaruh perhatian pada ekosistem di sekitarnya. Keragaman penampil—dari nama-nama populer hingga skena independen—menjadi salah satu cara Synchronize Fest menjaga ruang bagi pengalaman musik yang berbeda-beda.
Melalui edisi 2026, Synchronize Fest kembali menempatkan musik Indonesia sebagai ruang yang terus bergerak dan berubah. Pertemuan lintas generasi bukan sekadar tema, melainkan bagian dari identitas festival yang berusaha menghubungkan kenangan lama, suara baru, dan komunitas yang terus berkembang.
