Palembang — Unit grindcore/deathgrind asal Palembang, HUMERROR, bersiap memperkenalkan album penuh perdana bertajuk Liturgy of the Synthetic Gods pada Juli 2026. Mengusung konsep distopia yang gelap dan penuh kritik sosial, album ini menyoroti runtuhnya kepercayaan, kemerosotan politik, kendali teknologi, hingga munculnya bentuk-bentuk pemujaan baru dalam kehidupan manusia modern.
HUMERROR merupakan identitas baru dari band yang sebelumnya dikenal dengan nama Ta’zia. Perubahan nama ini bukan sekadar pembaruan identitas, melainkan juga menjadi awal dari arah artistik yang lebih terarah. Dengan karakter visual yang semakin gelap dan pendekatan musikal yang lebih luas, HUMERROR membawa akar musik ekstrem bawah tanah Indonesia menuju gagasan yang memiliki cakupan lebih besar.

Secara musikal, Liturgy of the Synthetic Gods memadukan kecepatan dan intensitas grindcore dengan bobot death metal, disertai sentuhan industrial. Sebelas lagu di dalamnya dibangun melalui komposisi yang agresif dan lugas, sekaligus menghadirkan suasana ritualistik lewat bagian-bagian vokal lisan serta narasi distopia yang saling terhubung.
Dalam meramu karakter musiknya, HUMERROR mengambil pengaruh dari sejumlah nama penting di ranah musik ekstrem, seperti Napalm Death, Lock Up, Misery Index, Brutal Truth, Nasum, Anaal Nathrakh, Rotten Sound, Wormrot, Terrorizer, hingga Pig Destroyer. Pengaruh tersebut berpadu dengan pendekatan lirik yang banyak membicarakan persoalan sosial, politik, dan pemikiran manusia.
Gagasan utama album ini juga tercermin melalui artwork yang menampilkan sosok pendeta mekanis di tengah reruntuhan katedral industri. Dikelilingi patung-patung suci yang hancur dan langit merah menyerupai suasana kiamat, ilustrasi tersebut memuat frasa “REX MORTUS EST”. Gambaran ini menjadi representasi berakhirnya tatanan lama dan munculnya kekuatan baru yang lebih dingin serta mekanis.
Melalui keseluruhan konsepnya, HUMERROR ingin menyampaikan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berhenti memuja sesuatu. Hanya saja, objek pemujaan itu telah bergeser menjadi teknologi, pemerintahan, keyakinan yang rusak, konsumerisme, serta berbagai sistem yang mengendalikan kehidupan.
Narasi tersebut dikembangkan melalui sebelas komposisi dengan tema yang berbeda. “Invocation of the Burned” membuka album layaknya sebuah ritual pemanggilan, sementara “Vicious Dominion” membahas kekuasaan yang tumbuh dari keyakinan yang menyimpang. “Error Divine” menggambarkan kegagalan manusia yang berubah menjadi bentuk ketuhanan baru.

Pembahasan mengenai kepatuhan, doktrin, dan kepercayaan sebagai alat kendali berlanjut melalui “Chapel of Chains” dan “Dogma Machine”. Sementara itu, “Digital Overkill” menyoroti ketergantungan terhadap layar, banjir rangsangan digital, serta dominasi algoritma. Kritik terhadap kekerasan politik, kerusakan institusi, dan eksploitasi negara kemudian hadir dalam “Government Terror” dan “State of Parasite”. Album ini ditutup oleh “Deus Silentium”, sebuah gambaran suram tentang dunia yang ditinggalkan para dewanya dan justru dikuasai oleh kekuatan buatan manusia sendiri.
Seluruh materi Liturgy of the Synthetic Gods ditulis dan dikomposisikan oleh Adityo Wibisono. Proses produksi dikerjakan oleh HUMERROR bersama Kevin Pangestu, sementara proses pencampuran dan penyelesaian akhir ditangani oleh Arif Hadianto.
Di balik identitas barunya, HUMERROR membawa gagasan bahwa kesalahan manusia merupakan salah satu sumber kehancuran. Melalui musik ekstrem, band ini menyuarakan kritik terhadap kesombongan, kepatuhan tanpa pertanyaan, penyalahgunaan kekuasaan, kerusakan keyakinan, ketergantungan teknologi, serta ilusi kemajuan.

Dengan Liturgy of the Synthetic Gods, HUMERROR tidak hanya memperkenalkan babak baru setelah perubahan dari Ta’zia, tetapi juga membangun dunia musikal yang menggabungkan agresivitas deathgrind dengan narasi sosial dan gambaran distopia. Album debut ini dijadwalkan hadir pada Juli 2026.